A.
Pengertian, Ruang Lingkup dan Peranan Sanitasi dan Hygiene
Pangan merupakan salah
satu kebutuhan dasar atau primer bagi manusia. Semakin maju suatu bangsa,
tuntutan dan perhatian terhadap kualitas pangan yang akan dikonsumsi semakin
besar. Tujuan mengkonsumsi makanan bukan lagi sekedar mengatasi rasa lapar,
tetapi semakin kompleks. Konsumen semakin
sadar bahwa pangan merupakan sumber utama pemenuhan kebutuhan zat-zat
gizi, seperti protein, karbohidrat, vitamin dan mineral untuk menjaga kesehatan
tubuh.
Dewasa ini masyarakat semakin selektif dalam menentukan kebutuhan akan
makanan dengan pertimbangan adalah faktor keamanan makanan. Seiring dengan
kemajuan jaman semakin banyak orang yang tidak mempunyai waktu luang untuk
menyiapkan makanan sendiri untuk dikonsumsi. Dengan demikian mereka tergantung
pada pelayanan jasa boga yang menyediakan makanan, diantaranya adalah restoran.
Institusi jasa boga memiliki tanggung jawab yang besar dalam meyediakan makanan
yang berkualitas. Masalah kualitas dalam makanan adalah penting. Terutama bila
kita melayani untuk orang lain. Secara sederhana kualitas menunjuk pada
mengerjakan sesuatu yang lebih baik dari kemarin, walaupun ukuran kualitas adalah
relatif. Suatu usaha yang ditangani secara profesional harus menggunakan
standar agar tercapai suatu produk yang konsisten. Kualitas dapat diupayakan
dengan memperbaiki aroma, tekstur, suasana dan penampilan. Masalah sanitasii
dalam bidang makanan nampaknya masih dianggap sebagai suatu usaha yang
sia-siasehingga banyak orang yang mengabaikannya. Banyak orang yang menganggap
dalam usaha makanan yang terpenting adalah laku, enak, dan laba yang banyak.
Tetapi bagaimana membuat penampilan yang bersih, baik, dan aman untuk dimakan
belum sepenuhnya menjadi perhatian.
Menghadapai kompetisi usaha dalam bidang makanan yang terjadi saat ini,
maka pengetahuan tentang sanitasi dan higiene menjadi sangat penting dan
merupakan suatu sistem yang harus dilakukan oleh semua usaha yang tergabung
dalam suatu usaha pelayanan makanan. Sanitasi dan higiene diperlukan mulai dari
perencanaan menu, pembelian bahan, penerimaan barang, penyimpanan, pengeluaran
barang,
persiapan pengolahan,
pengolahan, kegiatan menjaga makanan sebelum disajikan, kegiatan penyajian,
sampai pada kegiatan pencucian dan perawatan. Walaupun disadari terdapat
variasi sub sistem sanitasi yang disesuaian dengan besar kecilnya usaha
pelayanan makanan, namun masalah sanitasi harus tetap memperhatikan
setiap langkah kegiatan.
Terdapat empat hal yang perlu diperhatikan dalam pengolahan makanan, yaitu:
personal higiene, inventarisasi, fasilitas, dan peralatan.
Hygiene 1.
Menerapkan Prosedur
a. Personal Hygiene
Tujuan higiene personil
dalam pengolahan makanan adalah untuk memberikan pengertian dasar kepada para
pengelola makanan mengapa kebersihan didalam penanganan dan pengolahan makanan
sangat penting, bagaimana dan mengapa keracunan dan kerusakan makanan terjadi
dan bagaimana cara yang termudah dan yang paling efektif untuk mencegah hal
tersebut Tenaga kerja yang telah dilatih sanitasi dan higiene dapat
meningkatkan konsumen karena konsumen merasa mendapat kenyamanan. Berbagai
program dapat dilatihkan kepada tenaga kerja yaitu menjaga dan merawat kebersihan
diri sendiri yang meliputi kebersihan rambut, kuku, kulit, dan pakaian. Selain
itu program yang berkaitan dengan peralatan dan berbagai fasilitas dijaga agar
selalu bersih sehingga dapat menaikkan daya pakai alat, menjaga dinding,
lantai, langit-langit dari kerusakan. Selanjutnya pengetahuan tentang bagaimana
menangani makanan, teknik penyimpanan yang dapat menurunkan kerusakan
makanan. Semua
tenaga kerja harus ditanamkan tanggung jawab untuk menghindarkan tercemarnya makanan
dengan cara menjaga kebersihan diri sendiri dari kebiasaan yang tidak baik.
Seperti memegang rambut dan hidung di tempat pengolahan, merokok di tempat
pengolahan, bersin di tempat pengolahan, hendaklah mengenakan perhiasan
seperlunya, mencuci tangan dengan sabun setiap akan memegang makanan.
b. Cara–cara
menjaga kebersihan personal hygiene
1) Mandi secara teratur
2) Menyikat gigi
3) Berpakaian bersih
4) Membiasakan membersihkan lubang hidung
5) Membuang kotoran pada tempatnya
6) Kulit harus di jaga kebersihanya
7) Tangan tidak boleh kotor
8) Jangan meludah sembarangan
9) Menyisir rambut
Hygiene 2.
Mengidentifikasi Resiko
a.
Keracunan
makanan oleh bakteri
Bakteri berkembang biak
dengan membelah diri menjadi 2 bagian atau disebut juga Mitosis. Pada
temperature 30ºC
hingga 41ºC
jumlahnya akan bertambah dua kali lipat setiap 15 menit dan dalam 5 jam menjadi
1 juta. Bakteri akan berhenti berkembang biak pada temperature diatas 74ºC dan di bawah 4ºC. Pada temperature dingin
bakteri akan beristirahat. Bakteri Patogen berkembang biak pada suhu 37 ºC sama dengan suhu tubuh
manusia. Bakteri ini dapat tertularkan
melalui makanan yang tersentuh oleh tangan kotor, lap kotor dan berdebu,
meja dan peralatan dapur yang kotor. Bahan–bahan makanan seperti Milk, Butter, Margarine
Yoghurt, Cheese dapat
disimpan pada temperature 4 ºC. Untuk telur disimpan pada temperature -6ºC hingga 7ºC. Buah–buahan dan sayur–sayuran disimpan pada
temperature 10ºC.
Daging disimpan pada temperature 5ºC hingga 8ºC. Seafood dapat disimpan
pada temperature 2ºC
hingga 5ºC.
Untuk “Danger Zone” (zona bahaya) 37ºC hingga 69ºC dimana bakteri bisa
berkembang secara cepat dengan kelipatan 2 (dua).
b. Keracuanan
Makanan Biologis
Berbagai macam tanaman dan
hewan mangandung toksin–toksin
alami yang bisa menimbulkan keracunan jika dimakan. Diantaranya termasuk :
Jamur
Tanaman jamur yang mengandung toksin dari
tampak luarnya mirip sekali dengan jenis- jenis yang tidak mengandung toksin
dan beracun jika dimakan mentah ataupun dimasak. Maka penting sekali agar
membeli jamur hanya dari sumber yang
dapat diandalkan.
Kentang Hijau
Ini mangandung solanin
yang bisa menimbulkan sakit atau kematian jika dimakan dalam jumlah besar.
Kentang yang hijau harus senantiasa dibuang.
Hidangan hasil laut
Beberapa bahan makanan
hasil laut mangandung racun atau logam – logam berat. Termasuk dalam ini tiram,
kerang dan segolongan ikan. Maka penting
sekali bahwa penyediaan bahan makanan hasil laut akan diperoleh dari sumber – sumber yang
terpercaya.
c. Keracunan Makanan Kimiawi
Makanan bisa tanpa sengaja
tercemar oleh racun kimiawi disepanjang jalur produksi. Bagaimana itu terjadi,
dan apa yang bisa dilakukan untuk pencegahannya, meliputi hal – hal sebagai berikut:
Sisa penyemprotan bahan
kimia atau obat anti hama
Maka jadikan kebiasaan
yang baik untuk mencuci semua sayuran dan buah – buahan sebelum dipakai.
Pembasmi kuman terbuat
dari bahan kimia, obat semprot
serangga, bahan pembersih,
racun tikus
Bahan– bahan kimia tersebut
harus disimpan terpisah dari makanan, alat dan perkakas dapur yang dipergunakan
untuk membuat makanan. Dan harus merupakan bahan – bahan yang diperbolehkan
untuk dipakai sekitar lingkungan makanan dan harus dipergunakan semata – mata sesuai spesifikasi
pabriknya.
Tempat Penyimpanan Makanan
Keracunan seng bisa timbul apabila makanan
yang berkadar asam dibiarkan terlalu lama didalam kaleng berlapis seng. Juga
jangan menyimpan makanan didalam tempat tempat terbuat dari tembaga.
Bahan tambahan dalam
makanan
Segolongan orang, terutama
penderita asma sangat peka terhadap tambahan – tambahan yang dipakai
dalam pengolahan dan/atau pembuatan makanan. Diantara tambahan itu yang memicu
reaksi alergi terhadap MSG ( monosodium glutamate ),
tartrazine (pewarna kuning
untuk makanan) serta produk–produk belerang yang dipakai untuk
memperlambat oksidasi (misalnya pemutih kentang atau sayuran dan juga yang
dipakai dalam pengawetan buah– buahan yang dikeringkan).
Zat Makanan
Semua organisme mikro
membutuhkan zat makanan untuk bisa tahan hidup. Beberapa jenis makanan
khususnya merupakan sumber baik dari zat makanannya. Undang – undang kesehatan
mencantumkan makanan seperti itu pada daftar “Bahan Makanan Yang Bisa
Membahayakan”
karena bakteri peracun makanan cepat tumbuh dan berkembang biak didalamnya.
Bahan makanan tersebut pada umumnya mengandung protein yang cukup tinggi,
mangandung pati masak, lembab dan rendah kadar asamnya.
d. Penyebab Keracunan Makanan
Penyebab terjadinya
keracunan makanan, antara lain:
1) Unsur kimia di dalam bahan makanan
2) Toksin yang secara alamiah terdapat dalam
tanaman dan hewan
3) Bakteri
e. Contoh Makanan yang Membahayakan
1)
Daging Mentah
2) Daging dimasak, ikan dan unggas
3)
Daging olahan (mis: daging korned, pasta) – kecuali bacon, salami, ikan asin
dan pastel daging jika masih segar, diolah dengan baik dan kemasannya masih
utuh.
4) Daging kaleng (setelah dibuka)
5) Kerang – kerangan, terutama tiram
6) Kuah untuk daging dan saos
7) Susu dan produk susu
8) Saos dan kue pudding
9) Kream dan produk kream (mis: makanan kecil
yang berisi kream)
10) Telur & produk telur (mis: telur rebus
dalam salad)
11)
Saos salad (kadar asam rendah – misalnya mayonnaise)
12) Kentang dengan kream
13) Nasi (dimasak atau setengah masak)
14) Buncis (dimasak atau setengah masak)
15) Bahan untuk pengisian dalam daging dan unggas
Bahan–bahan makanan tersebut
harus senantiasa disimpan dalam lemari es dan dikerjakan secepatnya dan
secukupnya.
Hygiene 3. Mencegah
Resiko
a. Pencucian dan Penyimpanan Peralatan
Pengolahan Makanan
Peralatan dalam usaha
pengolahan makanan terbagi dalam empat bagian besar yaitu: peralatan pemanas,
peralatan pengolahan, peralatan penyimpanan makanan, dan peralatan yang
membantu pengolahan. Peralatan ditentukan oleh menu. Dengan dasar ini maka akan
terhindar dari pemilikan peralatan yang tidak perlu atau jarang digunakan.
Pilihlah peralatan yang mudah dibersihkan. Masukan program ini dalam kegiatan
sanitasi sehingga kegiatan membersihkan dan merawat peralatan merupakan aset
perusahaan yang dapat memberi sumbangan pada usaha pelayanan makanan. Peranan
peralatan makan dan masak dalam penyehatan makanan sangat penting karena
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari prinsip – prinsip penyehatan
makanan.
Peralatan makanan dan masak perlu juga dijaga kebersihannya setiap saat
akan digunakan. Untuk itu peranan pembersihan atau pencucian peralatan perlu
diketahui secara mendasar. Dengan membersihkan peralatan secara baik, akan
menghasilkan alat pengolahan makanan yang bersih dan sehat. Peralatan makanan
meliputi piring, gelas, sendok, pisau dan garpu. Peralatan dapat berupa
peralatan kaca ( Chinaware ), logam ( Metalware ) atau tembikar (
Ceramicware ). Peralatan masak meliputi kuali, wajan, dandang, serokan,
pisau, talenan, oven dan lain-lain.
Dengan menjaga kebersihan peralatan makan dan
masak, telah membantu mencegah terjadinya pencemaran atau kontaminasi makanan
yang dapat terjadi karena peralatan yang digunakan. Mencuci berarti
membersihkan atau membuat menjadi bersih. Pengertian bersih secara awam
bersifat relative, artinya tidak sama ukurannya bagi setiap orang, waktu,
tempat atau keadaan. Hygiene berarti memenuhi persyaratan bersih yang telah
diakui berdasarkan persyaratan bersih. Pengertian hygienis bersifat umum atau
universal, artinya berlaku sama untuk setiap orang, waktu atau keadaan. Agar
diketahui cara–cara
pencucian alat makan masak yang sehat serta mengetahui ukuran higienis yang
ditetapkan untuk dilaksanakan dalam kehidupan sehari–hari. Upaya pencucian peralatan
makan dan masak meliputi beberapa prinsip dasar yang perlu diketahui, yaitu :
d. Teknik Pencucian
Teknik pencucian yang
benar akan memberikan hasil akhir pencucian yang sehat dan aman. Maka untuk itu
perlu diikuti tahapan –
tahapan pencucian sebagai berikut :
1). Scraping
Memisahkan segala kotoran
dan sisa–sisa
makanan yang terdapat pada peralatan yang akan dicuci, seperti sisa makanan di
atas piring, sendok, panci dll.
2). Flushing dan Soaking
Mengguyur air diatas
peralatan yang akan dicuci sehingga bersih dari noda sisa seluruh permukaan
peralatan. Perendaman ( soaking ) dimaksud kan untuk memberi kesempatan
peresapan
air kedalam sisa makanan yang menempel atau mengeras, sehingga menjadi mudah
untuk dibersihkan atau terlepas dari permukaan alat. Waktu perendaman
tergantung dari kondisi peralatan. Penggunaan perendaman dengan air panas (60ºC) akan lebih cepat dari
pada air dingin. Minimal waktu perendaman adalah 30 menit– 60 menit.
3). Washing
Mencuci peralatan dengan cara menggosok dan
melarutkan sisa makanan dengan zat pencuci seperti detergen cair atau bubuk,
yang mudah larut dalam air sehingga sedikit kemuingkinan membekas pada alat
yang di cuci. Pada tahap ini dapat digunakan sabut, tapas, atau zat penghilang
bau yang dipergunakan seperti abu gosok, arang atau air jeruk nipis. Penggunaan sabun biasa sebaiknya harus
dihindari, karena sabun biasa tidak dapat melarutkan lemak, akibatnya
pembersihan lemak tidak sempurna dan kemungkinan bau. Sabun biasa agak sulit
larut dalam air dan bila menempel di peralatan akan menimbulkan bekas (noda)
bila peralatan sudah kering.
Pada tahap penggosokan ini perlu diperhatikan
bagian –
bagian peralatan yang perlu dibersihkan lebih cermat yaitu:
a) Bagian perlatan yang
terkena makanan (permukaan tempat makanan)
b) Bagian peralatan yang kontak dengan tubuh
(bibir gelas, ujung sendok).
c) Bagian yang tidak rata (bergerigi, berukir
dan berpori).
4) Rinsing
Mencuci peralatan yang
telah digosok detergent sampai bersih dengan cara dibilas dengan air bersih.
Pada tahap ini penggunaan air harus banyak, mengalir dan selalu bertukar.
Setiap alat yang dibersihkan dibilas dengan cara menggosok– gosok dengan tangan atau
sampai terasa kesat (tidak licin).
Pembilasan sebaiknya
dilakukan dengan air bertekanan yang cukup sehingga dapat melarutkan sisa
kotoran atau sisa bahan pencuci. Tekanan air yang digunakan dianjurkan dengan
tekanan 15 psi (pound persquare inches) atau tekanan air yang
digunakan sama dengan 1,2
kg/cm2.
5) Sanitizing
Tindakan sanitasi untuk
membebashamakan peralatan setelah proses pencucian. Peralatan yang selesai
dicuci perlu dijamin aman dari mikroba dengan cara sanitasi atau dikenal dengan
desinfeksi.
Cara desinfeksi yang umum
dilakukan adalah beberapa macam yaitu :
a) Rendam air panas 100ºC selama 2 menit.
b) Larutkan chlor aktif (50 ppm)
c) Udara panas (oven)
d) Sinar ultra violet (sinar pagi 9.00 – 11.00) atau peralatan
elektrik yang menghasilkan sinar ultra violet.
e) Uap panas (steam) yang biasanya terdapat pada
mesin
cuci piring (dishwashing
machine).
6) Toweling
Mengeringkan dengan
manggunakan kain atau handuk (towel) dengan maksud menghilangkan sisa- sisa
kotoran yang mungkin masih menempel sebagai akibat proses pencucian seperti
noda detergent, noda chlor. Sebenarnya kalau proses pencucian berlangsung
dengan baik, maka noda –
noda itu tidak boleh terjadi. Noda bisa terjadi pada mesin pencuci, yang system
desinfeksinya sudah kurang tepat.
Prinsip penggunaan lap pada alat yang sudah dicuci bersih sebenarnya
tidak boleh karena akan terjadi pencemaran sekunder (recontaminasi). Toweling
ini dapat digunakan dengan syarat bahwa towel yang digunakan harus steril serta
sering diganti unutk sejumlah penggunaan. Yang paling baik adalah sekali pakai
(single use). Towel yang sudah digunakan dicuci dan disterilkan dengan outctov
sehingga benar –
benar steril setiap akan digunakan. Dalam pembersihan peralatan yang
menggunakan tindakan sanitasi kering (sinar atau oven), penggunaan towel
sebaiknya tidak digunakan.
e. Tujuan Pencucian
Tujuan mencuci peralatan
makanan dan masak dengan menggunakan sarana dan teknis pencucian dapat
diuraikan sebagai berikut:
1) Untuk menghilangkan
kotoran-kotoran kasar, dilakukan dengan :
a) Scraping atau pemisahan kotoran sebelum dicuci,
agar proses mencuci lebih mudah, kotoran kasar tidak menyumbat saluran
pembuangan limbah dari bak pencuci.
b) Pemakain sabut, tapas atau abu gosok, agar
kotoran keras yang menempel dapat dilepaskan dari peralatan.
c) Penggunaan air bertekanan tinggi (15 psi)
dimaksud agar dengan tekanan air yang kuat dapat membantu melepaskan kotoran
yang melekat.
2) Untuk menghilangkan lemak dan minyak, dengan
cara :
a) Direndam dalam air panas (60ºC ) sampai larut dan
segera dicuci, jangan sampai dibiarkan kembali dingin, karena lemak akan
kembali membeku.
b) Direndam dalam larutan
detergent (lemon shop) dan bukan sabun, karena sabun tidak melarutkan lemak.
3) Untuk menghilangkan bau amis pada ikan dengan
cara :
a) Melarutkan dengan air perasan jeruk nipis
(lemon), dalam
larutan pencuci (asam
jeruk melarutkan lemak)
b) Menggunakan abu gosok,
arang atau kapur yang mempunyai daya deodorant (anti bau)
c) Menggunakan detergent
yang baik (lemak yang larut akan melarutkan bau amis / bau ikan).
4) Menggunakan tindakan
sanitasi dan desinfeksi untuk membebaskan hama dan kuman dengan cara–cara berikut :
a) Direndam dalam air panas dengan suhu 80ºC selama 2 menit dan 100ºC selama 1 menit.
b) Direndam dalam air mengandung chlor 50 ppm
selama 2 menit atau dibubuhi kaporit 2 sendok makan dalam 100 liter air.
c) Ditempatkan pada sinar matahari sampai kering
d) Ditempatkan pada oven penyimpanan piring.
5) Pengeringan peralatan yang telah selesai dicuci,
dapat dilakukan
dengan menggunakan :
a) Handuk khusus yang
bersih dan tidak menimbulkan
pengotoran ulang
b) Lap bersih sekali pakai
yang tidak menimbulkan
bekasnya
c) Ditiriskan sampai kering dengan sendirinya.
f. Tes Kebersihan
Untuk menguji apakah pencucian itu
berlangsung dengan baik dan benar, dilakukan pengukuran kebersihan pencucian
dengan cara test kebersihan sebagai berikut:
Test kebersihan secara
fisik dapat dilakukan sebagai berikut:
1) Dengan menaburkan tepung pada piring yang
sudah dicuci dalam keadaan kering. Bila tepungnya lengket pertanda pencucian
belum bersih
2) Menaburkan garam pada piring yang kering.
Bila garam yang ditaburkan tadi lengket pada piring, pertanda pencucian belum
bersih.
3) Penetesan air pada piring yang kering. Bila
air jatuh pada piring ternyata menumpuk /tidak pecah pertanda pencucian belum
bersih.
4) Penetesan dengan alcohol, jika tejadi endapan
pertanda pencucian belum bersih.
5) Penciuman aroma, bila tercium bau amis
pertanda pencucian belum bersih.
6) Penyinaran. Bila peralatan kelihatannya kusam
/ tidak cemerlang berarti pencucian belum bersih.
Tes kebersihan secara
bakteriologis dapat dilakukan dengan cara :
1) Pengambilan usapan kapas steril (swab) pada
peralatan
yang disimpan. Nilai
kebersihan dihitung dengan angka–
angka sebagai berikut:
a. Angka kuman sebanyak–banyaknya 100/cm dari
permukaan alat yang
diperiksa.
b. Angka kuman E Coli harus 0/cm2
2). Pengambilan usapan kapas steril pada peralatn dilakukan segera setelah
pencucian. Hal ini untuk menguji proses pencucian karena semakin lama akan
semakin banyak terjadi pencemaran bakteri yang berasal dari udara dan akan
memberikan penyimpangan lebih tinggi dari keadaan yang sebenarnya.
g. Inventarisasi
Sebenarnya mengelola
inventaris adalah kegiatan yang sulit, karena harus mencatat bahan yang ada
didalam refrigerator, dan bahan yang ada di gudang. Namun inventarisasi penting
dilakukan karena merupakan salah satu kegiatan manajemen yang dapat
meningkatkan keuntungan. Penimbunan
bahan makanan yang berlebihan akan mendorong terjadinya kontaminasi. Kegiatan
inventarisasi makanan meliputi produk makanan, produk minuman dan non makanan
seperti lenan, alat pembersih, obat-obat kimia dan sebagainya.
h. Fasilitas
Fasilitas adalah aset yang
memerlukan investasi yang besar dibandingkan dengan aset yang lain. Dengan
fasilitas usaha dapat menarik pembeli sehingga usaha menjadi lancar. Agar
sanitasi dapat terjaga merancang berbagai fasilitas fisik termasuk lingkungan
menjadi sangat penting. Lingkungan yang terjaga dengan aman, sehat dan bersih
menjadikan makanan dapat diterima ditempat yang layak, disimpan dengan baik,
disiapkan dan diolah dengan aman.
Konstruksi lantai,
dinding, langit-langit harus dibuat mudah dibersihkan bebas dari racun dan
dibuat sesuai keperluan. Demikian juga pencahayaan harus dapat membantu
meningkatkan keamanan dan sanitasi. Interior dan eksterior merupakan fasilitas
yang harus dikembangkan sesuai dengan harapan konsumen. Fasilitas lain yang
perlu diperhatikan adalah penyedian air bersih, pipa untuk ledeng, saluran pembuangan
kotoran, tempat sampah dan penanganannya. Pengontrolan serangga dan binatang
pengerat juga penting karena dapat membawa penyakit yang dapat menular ke
makanan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tulis komentar anda di bawah ini :)